1
KADO ISTIMEWA
UNTUK KELUARGA TERCINTA YANG TELAH TIADA
Pengantar
أَنِ الْحَمْدُ ،َّهِللِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالَّهلِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الَّهلُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّهلُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ الّهلَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ } آل عمران : 102 { وقال أيضا : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الَّهلَ وَقُولُوا قَوْلاً
710 { أما بعد،،، - سَدِيداً @ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ الَّهلَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً }الأحزاب : 70
فإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الَّهلِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ ا مْألُُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Hakekat kehidupan
Firman Allah :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ا مْألَْوَالِ وَا وْألَْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ
} يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ الَّهلِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ } الحديد : 20
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS.
Al-Hadid : 20).
Hakekat Kematian
Kematian pasti akan datang ; menghampiri setiap makhluk yang bernyawa tak terkecuali manusia,
bahkan tanda kematian itu sudah mulai bermunculan pada diri kita ; uban yang tumbuh menyela
ditengah rambut hitam kita, kulit keriput, gigi ompong, mata rabun, stamina mulai loyo, makanan
favorit sudah banyak dipantang karena asam urat dan kolestrol bersarang dalam tubuh serta organ
tubuh lainnya mulai melemah fungsinya itu pertanda bahwa langkah kita lebih dekat ke rumah
type 2x1 (kuburan) daripada ke rumah type 70 M2. Disamping bukti lain tentang kematian itu yaitu
orang-orang terkasih disekitar kita satu per satu mandahului kita itu pertanda indikasi kuat bahwa
kita sekarang sedang antri untuk dijemput oleh kematian. Apalagi didukung oleh firman Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ }آل عمران
}185:
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan (QS. Alu Imran : 185).
Alam kubur
Rumah type 2x1 inilah tempat persingahan pertama semua manusia, disana mereka hanya memiliki
dua pilihan tempat penantian sampai hari kiyamat tiba, yaitu taman-taman syurga atau lubanglubang
dari lubang api neraka, amal sholehlah yang akan menentukan pilihan tempat yang tepat
bagi kita dan orang tercinta yg telah tiada. Kita yang asih hidup masih ada kesempatan untuk
berbenah diri dan mempersiapkan amalan yang dapat mengantarkan ke taman syurga dan menghindarkan
diri dari lubang api neraka, lalu bagaimana dengan nasib orang tercinta yang telah tiada;
apakah itu orangtua, kerabat, dan teman??....memang tidak ada yang dapat memastikan dimana
mereka sekarang berada dari dua tempat yang tersedia itu, namun kita hanya dapat menang2
kap dari indikasinya dari perbuatan yang mereka lakukan selama hidupnya, bila selama hidupnya
mereka tergolong orang mukmin yang bertakwa dan kalimat la ilaha illallahu yang terucap dari
mulutnya kemungkinan besar mereka sekarang berada di taman syurga tersebut, sebaliknya bila
selama hidupnya dihiasi dengan maksiat kepada Allah maka pertanda bahwa mereka terancam
menjadi penghuni lubang neraka itu, hal ini didukung pesan tersirat dari sabda Nabi Muhammad
r :
مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، « : عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: .... فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مسلم{ { » أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ
Artinya : Sahabat mulia Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika disebutkan kebaikan seorang
jenazah dan sementara jenazah yang lain disebutkan tentang keburukannya, Rasulullah
bersabda : barangsiapa yang telah kalian sebut kebaikannya maka ia akan mendapatkan
syurga dan barangsiapa yang telah kalian sebut keburukannya maka ia berpeluang masuk
neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi – beliau ulang tiga kali ucapan
tersebut- (HR.Muslim).
Sekarang sebagian orang tercinta itu sudah pergi meninggalkan kita, memori kita telah merekam
sebagian besar apa yang telah mereka lakukan selama di dunia baik untuk dirinya atau pun yang
mereka sebarkan kepada orang lain termasuk kepada kita sebagai kerabat dekatnya, karenanya
dugaan kuat kita sudah hampir bisa dipastikan posisi mereka sekarang berada dimana. Oleh karena
itu kita harus melakukan tindakan “penyelamatan dan bantuan” kepada mereka tentu barometernya
adalah wahyu bukan akal, perasaan, dan bukan pula tradisi.
Islam telah menjelaskan hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menolong dan berbakti kepada
orang tercinta itu baik untuk menambah perbendaharaan pahala mereka atau meng –unregtransfer
dosa kepada mereka. Berikut ini penjelasan detailnya.
Barometer sampai atau tidaknya suatu amalan kepada tujuan
Merupakan hak prerogative Allah dalam menerima atau menolak suatu amalan yang dilakukan
Hamba-Nya, karenanya tidak ada manusia yang dapat memastikan sampai tidaknya suatu amal ke
tempat tujuan atau diterima atau tidaknya suatu ibadah kecuali dengan petunjuk wahyu Allah ;
baik yang tertuang dalam al-Qur’an mau pun dalam Sunna Rasulillahi r . Termasuk dalam masalah
mengirim pahala untuk kerabat dan keluarga tercinta yang sudah tiada.
Oleh karena itu, pastikan “kado” yang akan kita berikan kepada mereka bersumber dari syari’at
yang telah ditetapkan al-Qur’an dan Assunnah.
KADO UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
Membadal hajikan Orang Tua yang tidak mampu secara fisik.
عَنْ عَبْدِ الَّهلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ الفَضْلُ رَدِيفَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَشْعَمَ، فَجَعَلَ الفَضْلُ يَنْظُرُ
إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصْرِفُ وَجْهَ الفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ فَرِيضَةَ الَّهلِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الحَجِّ
البخاري وغيره{ {» نَعَمْ « : أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ
Artinya : Dari Sahabat Mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : adalah al-Fadl
saat dibonceng oleh Nabi r tiba-tiba seorang wanita dari suku khos’am mendekat yang membuat
al-Fadl melihatnya dan wanita itu pun melihat kea rah al-Fadl, lalu rasulullah r memalingkan
wajah al-fadl kearah lain, wanita itu bertanya kepada Rasulullah r: Ya Rasulullah !
sesungguhnya kewajiban haji yang telah dibebankan Allah kepada seluruh hamba-Nya telah
mengenai ayahku namun beliau sudah tua renta ; tidak bisa duduk diatas kendaraan apakah
boleh saya menghajikan beliau? Jawab beliau : boleh (HR. Bukhori).
3
KIAT MERAIH PAHALA BERLIPAT GANDA
Sabda Rasulullah shollallahu alaihi wasallam :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، « : عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ......}مسلم{
Artinya: dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata: bahwasanya Rasulullah r bersabda:
Barangsiapa mempelopori pebuatan kebaikan dalam Islam niscaya dia akan mendapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun
dari pahala mereka,….. (HR. Muslim ).
Seorang muslim yang cerdas senantiasa ingin menjadi pelopor dalam menebarkan kebaikan atau
menjadi penyebab dan atau penyandang dana dalam penyebaran kebaikan kepada orang lain. Niscaya
pahala perbuatan tersebut akan terus mengalir sejak masih hidup hingga saat dia berada di
alam barzakhnya sampai hari kiamat tiba.
Sedekah, ilmu yg bermanfaat, dan anak sholeh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى الَّهلُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ
يَدْعُو لَهُ }الترمذي{
Artinya : Dari sahabat mulia Abu Hurairah berkata : bahwa Rasullullah r bersabda : apabila
anak Adam itu wafat maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah,
ilmu yang dimanfaatkan orang lain, dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya (HR.
Tirmidzi).
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
» تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
}ابن ماجه وابن خزيمة{
Artinya : Dari Sahabat mulia Abu Harairah Ra berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : Sesungguh
sesuatu yang akan menjumpai seorang mukmin dari amalannya dan kebaikannya adalah
Ilmu yang disebarkan, anak sholeh yang ditinggalkan, mushaf yang diawariskan, mesjid yang
dibangunnya dan atau rumah yang dibangun untuk ibnu sabil, air sungai yang dialirkan, dan
sedekah yang dikeluarkan dari hartanya semasa ia hidup hal itu akan menjumpai pasca kematian
pelakunya (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
Dosa Jariyah
Bila orang tua, kerabat, pasangan, dan teman kita menjadi sebab kita dan orang lain melakukan
maksiat kepada Allah niscaya mereka akan menanggung resiko transfer dosa dari mereka yang
mengamalkan kemaksiatan tersebut sampai hari kiyamat tiba, sebagaimana sabda Rasulullah r :
عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ....، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ
بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ }مسلم{
Artinya : dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata : bahwasanya Rasulullah r bersabda :
... dan barangsiapa menyebarkan kemaksiatan dalam Islam maka dia menanggung dosanya
dan dosa orang yang mengamalkan perbutan tersebut sesudahnya tanpa mengurangi sedikit
pun dosa mereka (HR. Muslim ).
Oleh karena itu kado istimewa yang harus kita berikan supaya dosa itu tidak mengalir kepada
mereka yang menjadi sebab kita melakukan maksiat adalah dengan cara menyetop semua kemaksiatan
tersebut niscaya secara otomatis UN-REG dengan sendirinya.
4
KADO PENGHAPUS BEBAN DERITA ORANG TERCINTA YANG SUDAH TIADA
Melunasi hutang-hutangnya.
إِنَّ أَخَاكَ « : عَنْ سَعْدِ بْنِ ا طْألَْوَلِ، أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَتَرَكَ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَتَرَكَ عِيَالًا، فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ }ابن ماجه{ « : فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ قَدْ أَدَّيْتُ عَنْهُ إِلَّا دِينَارَيْنِ، ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَلَيْسَ لَهَا بَيِّنَةٌ، قَالَ ، » مُحْتَبَسٌ بِدَيْنِهِ، فَاقْضِ عَنْهُ
Sahabat Mulia sa’ad bin al-Athwal menuturkan bahwa saudaranya meninggal dunia dengan
meninggalkan uang sebesar tiga ratus dirham dan meninggalkan keluarga kecilnya, saat aku
ingin memberikan uang itu untuk biaya hidup keluarganya, Nabi Muhammad r bersabda :
sesungguhnya saudaramu itu terbelenggu oleh hutangnya, karena itu lunasilah hutangnya,
Sa’ad berkata : ya rasulullah ! aku telah membayarkan semua hutangnya kecuali sia dua dinar
; yang diklaim oleh seorang wanita sementara dia tidak punya bukti kuat, lalu rasulullah r
bersabda : berikan sisa dinar itu padanya karena sesungguhnya dia berhak (HR. Ibnu Majah)
Membayar hutang puasa wajib
البخاري ومسلم{ { » مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ « : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Aisyah Radiyallahu anha bahawasanya Rasulullah r bersabda : Barangsiapa
wafat dan punya hutang puasa maka walinya yang menggantikannya (HR. Bukhori
dan Muslim).
Membayar hutang puasa Nadzar
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ امْرَأَةً رَكِبَتِ الْبَحْرَ فَنَذَرَتْ إِنْ نَجَّاهَا الَّهلُ أَنْ تَصُومَ شَهْرًا، فَنَجَّاهَا الَّهلُ، فَلَمْ تَصُمْ حَتَّى مَاتَتْ فَجَاءَتْ، ابْنَتُهَا أَوْ أُخْتُهَا إِلَى رَسُولِ
أبوداود والنسائي{ { » فَأَمَرَهَا أَنْ تَصُومَ عَنْهَا « : الَّهلِ صَ
Artinya : Dari sahabat mulia Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wanita berlayar ; dia bernadzar
apabila Allah menyelamatkannya – sampai tujuan – niscaya akan puasa sebulan penuh, ia
pun Allah selamatkan sampai tujuan, ternyata wanita tersebut tidak berpuasa sampai wafat.
Putrinya atau saudara perempuannya datang menjumpai Rasulullah r mengadukan perihal
nadzar ibunya ; Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk menggantikan puasa bundanya
tersebut (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Membadalkan haji Nadzar orang tua
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ،
البخاري وغيره{ { » نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا الَّهلَ فَالَّهلُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ « : أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas t berkata : Bahwa seorang dari kabilah Juhainiyah
datang menjumpai Nabi r seraya berkata : sesungguhnya ibuku pernah bernadzar
untuk berhaji lalu beliau wafat sebelum berhaji, apakah saya harus menghajikannya? Beliau
bersabda : Ya anda hajikan atas namanya ; tidak kah engakau melihat andaikata ibumu punya
hutang apakah anda akan membayarnya? Karenya tunaikan lah hak Allah karena memenuhi
hak Allah harus diutamakan (HR.Bukhori).
Mendoakan Mereka
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ }
} الحشر : 10
Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap
orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10 ).
5
TRANSFER PAHALA UNTUK ORANG TERCINTA YG SUDAH TIADA
Berdo’a, mohon ampunan, dan melakukan amal sholeh lainnya.
عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ،
نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا « : هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ
تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا }أبوداود وابن ماجه وابن حبان والحاكم{
Artinya : Dari Abu Asyad Malik bin rabi’ah al-Saa’idy berkata : saat kami duduk disisi Rasulullah r tibatiba
ada seorang laki-laki menjumpai beliau, seraya berkata : masih adakah sisa kebaktian kita kepada
orangtua yang bisa aku lakukan pasca kematiannya? Beliau menjawabnya : iya ada, yaitu medoakan
keduanya, memohon ampunan bagi keduanya, serta memenuhi janji mereka pasca kematiannya, dan
menyambung silaturrahmi dengan kerabat yang akan terputus kecuali dengan kedua orang tua kita
disamping itu menghargai teman-teman baiknya (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Bersedekah atas nama orang tua meskipun tanpa wasiat
مسلم { » نَعَمْ « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ
والنسائي{
Artinya : Sahabat Mulia Abu Hurairah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi
r : sesungguhnya ayahku sudah wafat dan beliau meninggalkan harta tanpa wasiat, apakah dapat
melebur dosanya bila aku bersedekah atas nama beliau? Beliau bersabda : Iya (HR.Muslim).
Membadalhajikan dan Memerdekakan Budak
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائِلٍ أَوْصَى أَنْ يُعْتِقَ عَنْهُ مِائَةُ رَقَبَةٍ، فَأَعْتَقَ ابْنُهُ هِشَامٌ خَمْسِينَ رَقَبَةً، فَأَرَادَ ابْنُهُ عَمْرٌو أَنْ
يُعْتِقَ عَنْهُ الْخَمْسِينَ الْبَاقِيَةَ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ الَّهلِ ص، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ أَبِي أَوْصَى بِعَتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ،
إِنَّهُ لَوْ كَانَ مُسْلِمًا فَأَعْتَقْتُمْ عَنْهُ أَوْ تَصَدَّقْتُمْ عَنْهُ أَوْ « : وَإِنَّ هِشَامًا أَعْتَقَ عَنْهُ خَمْسِينَ وَبَقِيَتْ عَلَيْهِ خَمْسُونَ رَقَبَةً، أَفَأُعْتِقُ عَنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ الَّهلِ ص
أبوداود والبيهقي{. { » حَجَجْتُمْ عَنْهُ بَلَغَهُ ذَلِكَ
Artinya : Amru bin syu’aib menuturkan dari ayah dari kakeknya bahwa al-’Ash bin Wa’il berpesan menjelang
wafatnya untuk memerdekan seratus hamba sahaya, maka puteranya yang bernama Hisyam
memerdekan lima puluh hamba sahaya, putera yang lain bernama Amru ingin memerdekan lima puluh
budak yang tersisa, namun beliau ingin konsultasikan terlebih dahulu kepada Rasulullah r , saat
berjumpa dengan Rasulullah beliau berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya ayah telah berwasiat untuk
memerdekan seratus budak, Saudarakau Hisyam telah memerdekakan lima puluh budak, sisa lima puluh
budak yang belum dimerdekakan, apakah boleh aku memerdekan atas namanya? Beliau bersabda
: Bahwasanya andaikata - orang tuamu- muslim, lalu kalian memerdekakan atas namanya, bersedekah,
dan berhaji atas namanya niscaya akan sampai kepadanya (HR.Abu Daud dan al-Baihaqi).
Jadilah anak yang sholeh atau sholehah
Anak yang sholeh dan sholehah merupakan modal utama bagi kedua orangtuannya untuk menambah
kantong perbendaharan pahalanya, oleh sebab itu jika kita cinta dan sayang kepada mereka,
jangan berhenti beramal sholeh karena setiap ibadah yang kita lakukan secara otomatis pahalanya
akan mengalir kepada kedua orangtua kita yang sudah berbaring ditemapat penantiannya sampai
hari kiamat tiba. Hal ini berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah berikut ini :
.) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى )النجم : 39
Artinya : Sesungguhnya seseorang itu tidak mendapatkan sesuatu kecuali dari sesuatu yang telah
dia kerjakan sendiri (QS. An-Najem : 39).
النسائي وغيره{ { » إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ مِنْ كَسْبِهِ « : عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya : Sahabat Mulia Aisyah berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : sesungguhnya sebaik-baik
sesuatu yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan anak orang itu adalah
termasuk dari usahanya (HR. Nasa’I dan yang lainnya). Wallahu’alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar