Kamis, 24 Mei 2012

1
KADO ISTIMEWA
UNTUK KELUARGA TERCINTA YANG TELAH TIADA
Pengantar
أَنِ الْحَمْدُ ،َّهِللِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالَّهلِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الَّهلُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّهلُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ الّهلَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ } آل عمران : 102 { وقال أيضا : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الَّهلَ وَقُولُوا قَوْلاً
710 { أما بعد،،، - سَدِيداً @ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ الَّهلَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً }الأحزاب : 70
فإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الَّهلِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ ا مْألُُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Hakekat kehidupan
Firman Allah :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ا مْألَْوَالِ وَا وْألَْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ
} يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ الَّهلِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ } الحديد : 20
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS.
Al-Hadid : 20).
Hakekat Kematian
Kematian pasti akan datang ; menghampiri setiap makhluk yang bernyawa tak terkecuali manusia,
bahkan tanda kematian itu sudah mulai bermunculan pada diri kita ; uban yang tumbuh menyela
ditengah rambut hitam kita, kulit keriput, gigi ompong, mata rabun, stamina mulai loyo, makanan
favorit sudah banyak dipantang karena asam urat dan kolestrol bersarang dalam tubuh serta organ
tubuh lainnya mulai melemah fungsinya itu pertanda bahwa langkah kita lebih dekat ke rumah
type 2x1 (kuburan) daripada ke rumah type 70 M2. Disamping bukti lain tentang kematian itu yaitu
orang-orang terkasih disekitar kita satu per satu mandahului kita itu pertanda indikasi kuat bahwa
kita sekarang sedang antri untuk dijemput oleh kematian. Apalagi didukung oleh firman Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ }آل عمران
}185:
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan (QS. Alu Imran : 185).
Alam kubur
Rumah type 2x1 inilah tempat persingahan pertama semua manusia, disana mereka hanya memiliki
dua pilihan tempat penantian sampai hari kiyamat tiba, yaitu taman-taman syurga atau lubanglubang
dari lubang api neraka, amal sholehlah yang akan menentukan pilihan tempat yang tepat
bagi kita dan orang tercinta yg telah tiada. Kita yang asih hidup masih ada kesempatan untuk
berbenah diri dan mempersiapkan amalan yang dapat mengantarkan ke taman syurga dan menghindarkan
diri dari lubang api neraka, lalu bagaimana dengan nasib orang tercinta yang telah tiada;
apakah itu orangtua, kerabat, dan teman??....memang tidak ada yang dapat memastikan dimana
mereka sekarang berada dari dua tempat yang tersedia itu, namun kita hanya dapat menang2
kap dari indikasinya dari perbuatan yang mereka lakukan selama hidupnya, bila selama hidupnya
mereka tergolong orang mukmin yang bertakwa dan kalimat la ilaha illallahu yang terucap dari
mulutnya kemungkinan besar mereka sekarang berada di taman syurga tersebut, sebaliknya bila
selama hidupnya dihiasi dengan maksiat kepada Allah maka pertanda bahwa mereka terancam
menjadi penghuni lubang neraka itu, hal ini didukung pesan tersirat dari sabda Nabi Muhammad
r :
مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، « : عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: .... فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مسلم{ { » أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ
Artinya : Sahabat mulia Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika disebutkan kebaikan seorang
jenazah dan sementara jenazah yang lain disebutkan tentang keburukannya, Rasulullah
bersabda : barangsiapa yang telah kalian sebut kebaikannya maka ia akan mendapatkan
syurga dan barangsiapa yang telah kalian sebut keburukannya maka ia berpeluang masuk
neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi – beliau ulang tiga kali ucapan
tersebut- (HR.Muslim).
Sekarang sebagian orang tercinta itu sudah pergi meninggalkan kita, memori kita telah merekam
sebagian besar apa yang telah mereka lakukan selama di dunia baik untuk dirinya atau pun yang
mereka sebarkan kepada orang lain termasuk kepada kita sebagai kerabat dekatnya, karenanya
dugaan kuat kita sudah hampir bisa dipastikan posisi mereka sekarang berada dimana. Oleh karena
itu kita harus melakukan tindakan “penyelamatan dan bantuan” kepada mereka tentu barometernya
adalah wahyu bukan akal, perasaan, dan bukan pula tradisi.
Islam telah menjelaskan hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menolong dan berbakti kepada
orang tercinta itu baik untuk menambah perbendaharaan pahala mereka atau meng –unregtransfer
dosa kepada mereka. Berikut ini penjelasan detailnya.
Barometer sampai atau tidaknya suatu amalan kepada tujuan
Merupakan hak prerogative Allah dalam menerima atau menolak suatu amalan yang dilakukan
Hamba-Nya, karenanya tidak ada manusia yang dapat memastikan sampai tidaknya suatu amal ke
tempat tujuan atau diterima atau tidaknya suatu ibadah kecuali dengan petunjuk wahyu Allah ;
baik yang tertuang dalam al-Qur’an mau pun dalam Sunna Rasulillahi r . Termasuk dalam masalah
mengirim pahala untuk kerabat dan keluarga tercinta yang sudah tiada.
Oleh karena itu, pastikan “kado” yang akan kita berikan kepada mereka bersumber dari syari’at
yang telah ditetapkan al-Qur’an dan Assunnah.
KADO UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
Membadal hajikan Orang Tua yang tidak mampu secara fisik.
عَنْ عَبْدِ الَّهلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ الفَضْلُ رَدِيفَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَشْعَمَ، فَجَعَلَ الفَضْلُ يَنْظُرُ
إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصْرِفُ وَجْهَ الفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ فَرِيضَةَ الَّهلِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الحَجِّ
البخاري وغيره{ {» نَعَمْ « : أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ
Artinya : Dari Sahabat Mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : adalah al-Fadl
saat dibonceng oleh Nabi r tiba-tiba seorang wanita dari suku khos’am mendekat yang membuat
al-Fadl melihatnya dan wanita itu pun melihat kea rah al-Fadl, lalu rasulullah r memalingkan
wajah al-fadl kearah lain, wanita itu bertanya kepada Rasulullah r: Ya Rasulullah !
sesungguhnya kewajiban haji yang telah dibebankan Allah kepada seluruh hamba-Nya telah
mengenai ayahku namun beliau sudah tua renta ; tidak bisa duduk diatas kendaraan apakah
boleh saya menghajikan beliau? Jawab beliau : boleh (HR. Bukhori).
3
KIAT MERAIH PAHALA BERLIPAT GANDA
Sabda Rasulullah shollallahu alaihi wasallam :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، « : عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ......}مسلم{
Artinya: dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata: bahwasanya Rasulullah r bersabda:
Barangsiapa mempelopori pebuatan kebaikan dalam Islam niscaya dia akan mendapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun
dari pahala mereka,….. (HR. Muslim ).
Seorang muslim yang cerdas senantiasa ingin menjadi pelopor dalam menebarkan kebaikan atau
menjadi penyebab dan atau penyandang dana dalam penyebaran kebaikan kepada orang lain. Niscaya
pahala perbuatan tersebut akan terus mengalir sejak masih hidup hingga saat dia berada di
alam barzakhnya sampai hari kiamat tiba.
Sedekah, ilmu yg bermanfaat, dan anak sholeh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى الَّهلُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ
يَدْعُو لَهُ }الترمذي{
Artinya : Dari sahabat mulia Abu Hurairah berkata : bahwa Rasullullah r bersabda : apabila
anak Adam itu wafat maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah,
ilmu yang dimanfaatkan orang lain, dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya (HR.
Tirmidzi).
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
» تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
}ابن ماجه وابن خزيمة{
Artinya : Dari Sahabat mulia Abu Harairah Ra berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : Sesungguh
sesuatu yang akan menjumpai seorang mukmin dari amalannya dan kebaikannya adalah
Ilmu yang disebarkan, anak sholeh yang ditinggalkan, mushaf yang diawariskan, mesjid yang
dibangunnya dan atau rumah yang dibangun untuk ibnu sabil, air sungai yang dialirkan, dan
sedekah yang dikeluarkan dari hartanya semasa ia hidup hal itu akan menjumpai pasca kematian
pelakunya (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
Dosa Jariyah
Bila orang tua, kerabat, pasangan, dan teman kita menjadi sebab kita dan orang lain melakukan
maksiat kepada Allah niscaya mereka akan menanggung resiko transfer dosa dari mereka yang
mengamalkan kemaksiatan tersebut sampai hari kiyamat tiba, sebagaimana sabda Rasulullah r :
عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ....، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ
بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ }مسلم{
Artinya : dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata : bahwasanya Rasulullah r bersabda :
... dan barangsiapa menyebarkan kemaksiatan dalam Islam maka dia menanggung dosanya
dan dosa orang yang mengamalkan perbutan tersebut sesudahnya tanpa mengurangi sedikit
pun dosa mereka (HR. Muslim ).
Oleh karena itu kado istimewa yang harus kita berikan supaya dosa itu tidak mengalir kepada
mereka yang menjadi sebab kita melakukan maksiat adalah dengan cara menyetop semua kemaksiatan
tersebut niscaya secara otomatis UN-REG dengan sendirinya.
4
KADO PENGHAPUS BEBAN DERITA ORANG TERCINTA YANG SUDAH TIADA
Melunasi hutang-hutangnya.
إِنَّ أَخَاكَ « : عَنْ سَعْدِ بْنِ ا طْألَْوَلِ، أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَتَرَكَ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَتَرَكَ عِيَالًا، فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ }ابن ماجه{ « : فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ قَدْ أَدَّيْتُ عَنْهُ إِلَّا دِينَارَيْنِ، ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَلَيْسَ لَهَا بَيِّنَةٌ، قَالَ ، » مُحْتَبَسٌ بِدَيْنِهِ، فَاقْضِ عَنْهُ
Sahabat Mulia sa’ad bin al-Athwal menuturkan bahwa saudaranya meninggal dunia dengan
meninggalkan uang sebesar tiga ratus dirham dan meninggalkan keluarga kecilnya, saat aku
ingin memberikan uang itu untuk biaya hidup keluarganya, Nabi Muhammad r bersabda :
sesungguhnya saudaramu itu terbelenggu oleh hutangnya, karena itu lunasilah hutangnya,
Sa’ad berkata : ya rasulullah ! aku telah membayarkan semua hutangnya kecuali sia dua dinar
; yang diklaim oleh seorang wanita sementara dia tidak punya bukti kuat, lalu rasulullah r
bersabda : berikan sisa dinar itu padanya karena sesungguhnya dia berhak (HR. Ibnu Majah)
Membayar hutang puasa wajib
البخاري ومسلم{ { » مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ « : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Aisyah Radiyallahu anha bahawasanya Rasulullah r bersabda : Barangsiapa
wafat dan punya hutang puasa maka walinya yang menggantikannya (HR. Bukhori
dan Muslim).
Membayar hutang puasa Nadzar
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ امْرَأَةً رَكِبَتِ الْبَحْرَ فَنَذَرَتْ إِنْ نَجَّاهَا الَّهلُ أَنْ تَصُومَ شَهْرًا، فَنَجَّاهَا الَّهلُ، فَلَمْ تَصُمْ حَتَّى مَاتَتْ فَجَاءَتْ، ابْنَتُهَا أَوْ أُخْتُهَا إِلَى رَسُولِ
أبوداود والنسائي{ { » فَأَمَرَهَا أَنْ تَصُومَ عَنْهَا « : الَّهلِ صَ
Artinya : Dari sahabat mulia Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wanita berlayar ; dia bernadzar
apabila Allah menyelamatkannya – sampai tujuan – niscaya akan puasa sebulan penuh, ia
pun Allah selamatkan sampai tujuan, ternyata wanita tersebut tidak berpuasa sampai wafat.
Putrinya atau saudara perempuannya datang menjumpai Rasulullah r mengadukan perihal
nadzar ibunya ; Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk menggantikan puasa bundanya
tersebut (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Membadalkan haji Nadzar orang tua
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ،
البخاري وغيره{ { » نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا الَّهلَ فَالَّهلُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ « : أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas t berkata : Bahwa seorang dari kabilah Juhainiyah
datang menjumpai Nabi r seraya berkata : sesungguhnya ibuku pernah bernadzar
untuk berhaji lalu beliau wafat sebelum berhaji, apakah saya harus menghajikannya? Beliau
bersabda : Ya anda hajikan atas namanya ; tidak kah engakau melihat andaikata ibumu punya
hutang apakah anda akan membayarnya? Karenya tunaikan lah hak Allah karena memenuhi
hak Allah harus diutamakan (HR.Bukhori).
Mendoakan Mereka
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ }
} الحشر : 10
Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap
orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10 ).
5
TRANSFER PAHALA UNTUK ORANG TERCINTA YG SUDAH TIADA
Berdo’a, mohon ampunan, dan melakukan amal sholeh lainnya.
عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ،
نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا « : هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ
تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا }أبوداود وابن ماجه وابن حبان والحاكم{
Artinya : Dari Abu Asyad Malik bin rabi’ah al-Saa’idy berkata : saat kami duduk disisi Rasulullah r tibatiba
ada seorang laki-laki menjumpai beliau, seraya berkata : masih adakah sisa kebaktian kita kepada
orangtua yang bisa aku lakukan pasca kematiannya? Beliau menjawabnya : iya ada, yaitu medoakan
keduanya, memohon ampunan bagi keduanya, serta memenuhi janji mereka pasca kematiannya, dan
menyambung silaturrahmi dengan kerabat yang akan terputus kecuali dengan kedua orang tua kita
disamping itu menghargai teman-teman baiknya (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Bersedekah atas nama orang tua meskipun tanpa wasiat
مسلم { » نَعَمْ « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ
والنسائي{
Artinya : Sahabat Mulia Abu Hurairah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi
r : sesungguhnya ayahku sudah wafat dan beliau meninggalkan harta tanpa wasiat, apakah dapat
melebur dosanya bila aku bersedekah atas nama beliau? Beliau bersabda : Iya (HR.Muslim).
Membadalhajikan dan Memerdekakan Budak
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائِلٍ أَوْصَى أَنْ يُعْتِقَ عَنْهُ مِائَةُ رَقَبَةٍ، فَأَعْتَقَ ابْنُهُ هِشَامٌ خَمْسِينَ رَقَبَةً، فَأَرَادَ ابْنُهُ عَمْرٌو أَنْ
يُعْتِقَ عَنْهُ الْخَمْسِينَ الْبَاقِيَةَ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ الَّهلِ ص، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ أَبِي أَوْصَى بِعَتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ،
إِنَّهُ لَوْ كَانَ مُسْلِمًا فَأَعْتَقْتُمْ عَنْهُ أَوْ تَصَدَّقْتُمْ عَنْهُ أَوْ « : وَإِنَّ هِشَامًا أَعْتَقَ عَنْهُ خَمْسِينَ وَبَقِيَتْ عَلَيْهِ خَمْسُونَ رَقَبَةً، أَفَأُعْتِقُ عَنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ الَّهلِ ص
أبوداود والبيهقي{. { » حَجَجْتُمْ عَنْهُ بَلَغَهُ ذَلِكَ
Artinya : Amru bin syu’aib menuturkan dari ayah dari kakeknya bahwa al-’Ash bin Wa’il berpesan menjelang
wafatnya untuk memerdekan seratus hamba sahaya, maka puteranya yang bernama Hisyam
memerdekan lima puluh hamba sahaya, putera yang lain bernama Amru ingin memerdekan lima puluh
budak yang tersisa, namun beliau ingin konsultasikan terlebih dahulu kepada Rasulullah r , saat
berjumpa dengan Rasulullah beliau berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya ayah telah berwasiat untuk
memerdekan seratus budak, Saudarakau Hisyam telah memerdekakan lima puluh budak, sisa lima puluh
budak yang belum dimerdekakan, apakah boleh aku memerdekan atas namanya? Beliau bersabda
: Bahwasanya andaikata - orang tuamu- muslim, lalu kalian memerdekakan atas namanya, bersedekah,
dan berhaji atas namanya niscaya akan sampai kepadanya (HR.Abu Daud dan al-Baihaqi).
Jadilah anak yang sholeh atau sholehah
Anak yang sholeh dan sholehah merupakan modal utama bagi kedua orangtuannya untuk menambah
kantong perbendaharan pahalanya, oleh sebab itu jika kita cinta dan sayang kepada mereka,
jangan berhenti beramal sholeh karena setiap ibadah yang kita lakukan secara otomatis pahalanya
akan mengalir kepada kedua orangtua kita yang sudah berbaring ditemapat penantiannya sampai
hari kiamat tiba. Hal ini berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah berikut ini :
.) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى )النجم : 39
Artinya : Sesungguhnya seseorang itu tidak mendapatkan sesuatu kecuali dari sesuatu yang telah
dia kerjakan sendiri (QS. An-Najem : 39).
النسائي وغيره{ { » إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ مِنْ كَسْبِهِ « : عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya : Sahabat Mulia Aisyah berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : sesungguhnya sebaik-baik
sesuatu yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan anak orang itu adalah
termasuk dari usahanya (HR. Nasa’I dan yang lainnya). Wallahu’alam.
1
KADO ISTIMEWA
UNTUK KELUARGA TERCINTA YANG TELAH TIADA
Pengantar
أَنِ الْحَمْدُ ،َّهِللِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالَّهلِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الَّهلُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّهلُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ الّهلَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ } آل عمران : 102 { وقال أيضا : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الَّهلَ وَقُولُوا قَوْلاً
710 { أما بعد،،، - سَدِيداً @ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ الَّهلَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً }الأحزاب : 70
فإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الَّهلِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ ا مْألُُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Hakekat kehidupan
Firman Allah :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ا مْألَْوَالِ وَا وْألَْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ
} يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ الَّهلِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ } الحديد : 20
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS.
Al-Hadid : 20).
Hakekat Kematian
Kematian pasti akan datang ; menghampiri setiap makhluk yang bernyawa tak terkecuali manusia,
bahkan tanda kematian itu sudah mulai bermunculan pada diri kita ; uban yang tumbuh menyela
ditengah rambut hitam kita, kulit keriput, gigi ompong, mata rabun, stamina mulai loyo, makanan
favorit sudah banyak dipantang karena asam urat dan kolestrol bersarang dalam tubuh serta organ
tubuh lainnya mulai melemah fungsinya itu pertanda bahwa langkah kita lebih dekat ke rumah
type 2x1 (kuburan) daripada ke rumah type 70 M2. Disamping bukti lain tentang kematian itu yaitu
orang-orang terkasih disekitar kita satu per satu mandahului kita itu pertanda indikasi kuat bahwa
kita sekarang sedang antri untuk dijemput oleh kematian. Apalagi didukung oleh firman Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ }آل عمران
}185:
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan (QS. Alu Imran : 185).
Alam kubur
Rumah type 2x1 inilah tempat persingahan pertama semua manusia, disana mereka hanya memiliki
dua pilihan tempat penantian sampai hari kiyamat tiba, yaitu taman-taman syurga atau lubanglubang
dari lubang api neraka, amal sholehlah yang akan menentukan pilihan tempat yang tepat
bagi kita dan orang tercinta yg telah tiada. Kita yang asih hidup masih ada kesempatan untuk
berbenah diri dan mempersiapkan amalan yang dapat mengantarkan ke taman syurga dan menghindarkan
diri dari lubang api neraka, lalu bagaimana dengan nasib orang tercinta yang telah tiada;
apakah itu orangtua, kerabat, dan teman??....memang tidak ada yang dapat memastikan dimana
mereka sekarang berada dari dua tempat yang tersedia itu, namun kita hanya dapat menang2
kap dari indikasinya dari perbuatan yang mereka lakukan selama hidupnya, bila selama hidupnya
mereka tergolong orang mukmin yang bertakwa dan kalimat la ilaha illallahu yang terucap dari
mulutnya kemungkinan besar mereka sekarang berada di taman syurga tersebut, sebaliknya bila
selama hidupnya dihiasi dengan maksiat kepada Allah maka pertanda bahwa mereka terancam
menjadi penghuni lubang neraka itu, hal ini didukung pesan tersirat dari sabda Nabi Muhammad
r :
مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، « : عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: .... فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مسلم{ { » أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي ا رْألَْضِ
Artinya : Sahabat mulia Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika disebutkan kebaikan seorang
jenazah dan sementara jenazah yang lain disebutkan tentang keburukannya, Rasulullah
bersabda : barangsiapa yang telah kalian sebut kebaikannya maka ia akan mendapatkan
syurga dan barangsiapa yang telah kalian sebut keburukannya maka ia berpeluang masuk
neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi – beliau ulang tiga kali ucapan
tersebut- (HR.Muslim).
Sekarang sebagian orang tercinta itu sudah pergi meninggalkan kita, memori kita telah merekam
sebagian besar apa yang telah mereka lakukan selama di dunia baik untuk dirinya atau pun yang
mereka sebarkan kepada orang lain termasuk kepada kita sebagai kerabat dekatnya, karenanya
dugaan kuat kita sudah hampir bisa dipastikan posisi mereka sekarang berada dimana. Oleh karena
itu kita harus melakukan tindakan “penyelamatan dan bantuan” kepada mereka tentu barometernya
adalah wahyu bukan akal, perasaan, dan bukan pula tradisi.
Islam telah menjelaskan hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menolong dan berbakti kepada
orang tercinta itu baik untuk menambah perbendaharaan pahala mereka atau meng –unregtransfer
dosa kepada mereka. Berikut ini penjelasan detailnya.
Barometer sampai atau tidaknya suatu amalan kepada tujuan
Merupakan hak prerogative Allah dalam menerima atau menolak suatu amalan yang dilakukan
Hamba-Nya, karenanya tidak ada manusia yang dapat memastikan sampai tidaknya suatu amal ke
tempat tujuan atau diterima atau tidaknya suatu ibadah kecuali dengan petunjuk wahyu Allah ;
baik yang tertuang dalam al-Qur’an mau pun dalam Sunna Rasulillahi r . Termasuk dalam masalah
mengirim pahala untuk kerabat dan keluarga tercinta yang sudah tiada.
Oleh karena itu, pastikan “kado” yang akan kita berikan kepada mereka bersumber dari syari’at
yang telah ditetapkan al-Qur’an dan Assunnah.
KADO UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP
Membadal hajikan Orang Tua yang tidak mampu secara fisik.
عَنْ عَبْدِ الَّهلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ الفَضْلُ رَدِيفَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَشْعَمَ، فَجَعَلَ الفَضْلُ يَنْظُرُ
إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصْرِفُ وَجْهَ الفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ فَرِيضَةَ الَّهلِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الحَجِّ
البخاري وغيره{ {» نَعَمْ « : أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ
Artinya : Dari Sahabat Mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : adalah al-Fadl
saat dibonceng oleh Nabi r tiba-tiba seorang wanita dari suku khos’am mendekat yang membuat
al-Fadl melihatnya dan wanita itu pun melihat kea rah al-Fadl, lalu rasulullah r memalingkan
wajah al-fadl kearah lain, wanita itu bertanya kepada Rasulullah r: Ya Rasulullah !
sesungguhnya kewajiban haji yang telah dibebankan Allah kepada seluruh hamba-Nya telah
mengenai ayahku namun beliau sudah tua renta ; tidak bisa duduk diatas kendaraan apakah
boleh saya menghajikan beliau? Jawab beliau : boleh (HR. Bukhori).
3
KIAT MERAIH PAHALA BERLIPAT GANDA
Sabda Rasulullah shollallahu alaihi wasallam :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، « : عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ......}مسلم{
Artinya: dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata: bahwasanya Rasulullah r bersabda:
Barangsiapa mempelopori pebuatan kebaikan dalam Islam niscaya dia akan mendapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun
dari pahala mereka,….. (HR. Muslim ).
Seorang muslim yang cerdas senantiasa ingin menjadi pelopor dalam menebarkan kebaikan atau
menjadi penyebab dan atau penyandang dana dalam penyebaran kebaikan kepada orang lain. Niscaya
pahala perbuatan tersebut akan terus mengalir sejak masih hidup hingga saat dia berada di
alam barzakhnya sampai hari kiamat tiba.
Sedekah, ilmu yg bermanfaat, dan anak sholeh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى الَّهلُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ
يَدْعُو لَهُ }الترمذي{
Artinya : Dari sahabat mulia Abu Hurairah berkata : bahwa Rasullullah r bersabda : apabila
anak Adam itu wafat maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah,
ilmu yang dimanfaatkan orang lain, dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya (HR.
Tirmidzi).
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
» تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
}ابن ماجه وابن خزيمة{
Artinya : Dari Sahabat mulia Abu Harairah Ra berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : Sesungguh
sesuatu yang akan menjumpai seorang mukmin dari amalannya dan kebaikannya adalah
Ilmu yang disebarkan, anak sholeh yang ditinggalkan, mushaf yang diawariskan, mesjid yang
dibangunnya dan atau rumah yang dibangun untuk ibnu sabil, air sungai yang dialirkan, dan
sedekah yang dikeluarkan dari hartanya semasa ia hidup hal itu akan menjumpai pasca kematian
pelakunya (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
Dosa Jariyah
Bila orang tua, kerabat, pasangan, dan teman kita menjadi sebab kita dan orang lain melakukan
maksiat kepada Allah niscaya mereka akan menanggung resiko transfer dosa dari mereka yang
mengamalkan kemaksiatan tersebut sampai hari kiyamat tiba, sebagaimana sabda Rasulullah r :
عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ....، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ
بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ }مسلم{
Artinya : dari al-Mundzir bin Jarir dari Ayahnya berkata : bahwasanya Rasulullah r bersabda :
... dan barangsiapa menyebarkan kemaksiatan dalam Islam maka dia menanggung dosanya
dan dosa orang yang mengamalkan perbutan tersebut sesudahnya tanpa mengurangi sedikit
pun dosa mereka (HR. Muslim ).
Oleh karena itu kado istimewa yang harus kita berikan supaya dosa itu tidak mengalir kepada
mereka yang menjadi sebab kita melakukan maksiat adalah dengan cara menyetop semua kemaksiatan
tersebut niscaya secara otomatis UN-REG dengan sendirinya.
4
KADO PENGHAPUS BEBAN DERITA ORANG TERCINTA YANG SUDAH TIADA
Melunasi hutang-hutangnya.
إِنَّ أَخَاكَ « : عَنْ سَعْدِ بْنِ ا طْألَْوَلِ، أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَتَرَكَ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَتَرَكَ عِيَالًا، فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ }ابن ماجه{ « : فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ قَدْ أَدَّيْتُ عَنْهُ إِلَّا دِينَارَيْنِ، ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَلَيْسَ لَهَا بَيِّنَةٌ، قَالَ ، » مُحْتَبَسٌ بِدَيْنِهِ، فَاقْضِ عَنْهُ
Sahabat Mulia sa’ad bin al-Athwal menuturkan bahwa saudaranya meninggal dunia dengan
meninggalkan uang sebesar tiga ratus dirham dan meninggalkan keluarga kecilnya, saat aku
ingin memberikan uang itu untuk biaya hidup keluarganya, Nabi Muhammad r bersabda :
sesungguhnya saudaramu itu terbelenggu oleh hutangnya, karena itu lunasilah hutangnya,
Sa’ad berkata : ya rasulullah ! aku telah membayarkan semua hutangnya kecuali sia dua dinar
; yang diklaim oleh seorang wanita sementara dia tidak punya bukti kuat, lalu rasulullah r
bersabda : berikan sisa dinar itu padanya karena sesungguhnya dia berhak (HR. Ibnu Majah)
Membayar hutang puasa wajib
البخاري ومسلم{ { » مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ « : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Aisyah Radiyallahu anha bahawasanya Rasulullah r bersabda : Barangsiapa
wafat dan punya hutang puasa maka walinya yang menggantikannya (HR. Bukhori
dan Muslim).
Membayar hutang puasa Nadzar
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ امْرَأَةً رَكِبَتِ الْبَحْرَ فَنَذَرَتْ إِنْ نَجَّاهَا الَّهلُ أَنْ تَصُومَ شَهْرًا، فَنَجَّاهَا الَّهلُ، فَلَمْ تَصُمْ حَتَّى مَاتَتْ فَجَاءَتْ، ابْنَتُهَا أَوْ أُخْتُهَا إِلَى رَسُولِ
أبوداود والنسائي{ { » فَأَمَرَهَا أَنْ تَصُومَ عَنْهَا « : الَّهلِ صَ
Artinya : Dari sahabat mulia Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wanita berlayar ; dia bernadzar
apabila Allah menyelamatkannya – sampai tujuan – niscaya akan puasa sebulan penuh, ia
pun Allah selamatkan sampai tujuan, ternyata wanita tersebut tidak berpuasa sampai wafat.
Putrinya atau saudara perempuannya datang menjumpai Rasulullah r mengadukan perihal
nadzar ibunya ; Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk menggantikan puasa bundanya
tersebut (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Membadalkan haji Nadzar orang tua
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّهلُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ،
البخاري وغيره{ { » نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا الَّهلَ فَالَّهلُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ « : أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ
Artinya : Dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas t berkata : Bahwa seorang dari kabilah Juhainiyah
datang menjumpai Nabi r seraya berkata : sesungguhnya ibuku pernah bernadzar
untuk berhaji lalu beliau wafat sebelum berhaji, apakah saya harus menghajikannya? Beliau
bersabda : Ya anda hajikan atas namanya ; tidak kah engakau melihat andaikata ibumu punya
hutang apakah anda akan membayarnya? Karenya tunaikan lah hak Allah karena memenuhi
hak Allah harus diutamakan (HR.Bukhori).
Mendoakan Mereka
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ }
} الحشر : 10
Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap
orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10 ).
5
TRANSFER PAHALA UNTUK ORANG TERCINTA YG SUDAH TIADA
Berdo’a, mohon ampunan, dan melakukan amal sholeh lainnya.
عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ،
نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا « : هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ
تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا }أبوداود وابن ماجه وابن حبان والحاكم{
Artinya : Dari Abu Asyad Malik bin rabi’ah al-Saa’idy berkata : saat kami duduk disisi Rasulullah r tibatiba
ada seorang laki-laki menjumpai beliau, seraya berkata : masih adakah sisa kebaktian kita kepada
orangtua yang bisa aku lakukan pasca kematiannya? Beliau menjawabnya : iya ada, yaitu medoakan
keduanya, memohon ampunan bagi keduanya, serta memenuhi janji mereka pasca kematiannya, dan
menyambung silaturrahmi dengan kerabat yang akan terputus kecuali dengan kedua orang tua kita
disamping itu menghargai teman-teman baiknya (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Bersedekah atas nama orang tua meskipun tanpa wasiat
مسلم { » نَعَمْ « : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ
والنسائي{
Artinya : Sahabat Mulia Abu Hurairah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi
r : sesungguhnya ayahku sudah wafat dan beliau meninggalkan harta tanpa wasiat, apakah dapat
melebur dosanya bila aku bersedekah atas nama beliau? Beliau bersabda : Iya (HR.Muslim).
Membadalhajikan dan Memerdekakan Budak
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائِلٍ أَوْصَى أَنْ يُعْتِقَ عَنْهُ مِائَةُ رَقَبَةٍ، فَأَعْتَقَ ابْنُهُ هِشَامٌ خَمْسِينَ رَقَبَةً، فَأَرَادَ ابْنُهُ عَمْرٌو أَنْ
يُعْتِقَ عَنْهُ الْخَمْسِينَ الْبَاقِيَةَ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ الَّهلِ ص، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الَّهلِ إِنَّ أَبِي أَوْصَى بِعَتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ،
إِنَّهُ لَوْ كَانَ مُسْلِمًا فَأَعْتَقْتُمْ عَنْهُ أَوْ تَصَدَّقْتُمْ عَنْهُ أَوْ « : وَإِنَّ هِشَامًا أَعْتَقَ عَنْهُ خَمْسِينَ وَبَقِيَتْ عَلَيْهِ خَمْسُونَ رَقَبَةً، أَفَأُعْتِقُ عَنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ الَّهلِ ص
أبوداود والبيهقي{. { » حَجَجْتُمْ عَنْهُ بَلَغَهُ ذَلِكَ
Artinya : Amru bin syu’aib menuturkan dari ayah dari kakeknya bahwa al-’Ash bin Wa’il berpesan menjelang
wafatnya untuk memerdekan seratus hamba sahaya, maka puteranya yang bernama Hisyam
memerdekan lima puluh hamba sahaya, putera yang lain bernama Amru ingin memerdekan lima puluh
budak yang tersisa, namun beliau ingin konsultasikan terlebih dahulu kepada Rasulullah r , saat
berjumpa dengan Rasulullah beliau berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya ayah telah berwasiat untuk
memerdekan seratus budak, Saudarakau Hisyam telah memerdekakan lima puluh budak, sisa lima puluh
budak yang belum dimerdekakan, apakah boleh aku memerdekan atas namanya? Beliau bersabda
: Bahwasanya andaikata - orang tuamu- muslim, lalu kalian memerdekakan atas namanya, bersedekah,
dan berhaji atas namanya niscaya akan sampai kepadanya (HR.Abu Daud dan al-Baihaqi).
Jadilah anak yang sholeh atau sholehah
Anak yang sholeh dan sholehah merupakan modal utama bagi kedua orangtuannya untuk menambah
kantong perbendaharan pahalanya, oleh sebab itu jika kita cinta dan sayang kepada mereka,
jangan berhenti beramal sholeh karena setiap ibadah yang kita lakukan secara otomatis pahalanya
akan mengalir kepada kedua orangtua kita yang sudah berbaring ditemapat penantiannya sampai
hari kiamat tiba. Hal ini berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah berikut ini :
.) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى )النجم : 39
Artinya : Sesungguhnya seseorang itu tidak mendapatkan sesuatu kecuali dari sesuatu yang telah
dia kerjakan sendiri (QS. An-Najem : 39).
النسائي وغيره{ { » إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَ الرَّجُلِ مِنْ كَسْبِهِ « : عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الَّهلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya : Sahabat Mulia Aisyah berkata : bahwa Rasulullah r bersabda : sesungguhnya sebaik-baik
sesuatu yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan anak orang itu adalah
termasuk dari usahanya (HR. Nasa’I dan yang lainnya). Wallahu’alam.

Selasa, 22 Mei 2012

Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
Hampir seluruh manusia pernah terjangkiti Hasad. Ibnu Taimiyyah berkata :
و اَل مْ قَ صْ وُ دْ أ نَ " ال حْ سَ دَ " م رَ ضَ م نِ أ مَ رْ اَض الن فَّ سْ و هَ وُ م رَ ضٌَ
غ اَل بِ ف لَا ي خَ لْ صُ م نِ هْ إ لِا ق لَ يِ لْ م نِ الن اَّس و لَ هِ ذَ اَ ي قُ اَل :
م اَ خ لَا ج سَ دَ م نِ ح سَ دَ ل كَ نِ الل ئَّ يِ مْ ي بُ دْ يِ هْ و اَل كْ رَ يِ مَْ
ي خُ فْ يِ هِْ
"Maksudnya yaitu bahwasanya hasad adalah penyakit jiwa, dan ia adalah penyakit yang
menguasai, tidak ada yang selamat darinya kecuali hanya segelintir orang. Karenanya
dikatakan, "Tidak ada jasad yang selamat dari hasad, akan tetapi orang yang tercela
menampakkannya dan orang yang mulia menyembunyikannya" (Majmuu' Al-Fataawaa
10/125-126)
Kenapa hasad sulit dihindari?, Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata
و اَل حْ سَ دَ م رَ كْ وُ زْ ف يِ ط بِ اَع ال بْ شَ رَ و هَ وُ أ نَ الإ نِ سْ اَن ي كَ رْ هَُ
أ نَ ي فَ وُ قْ هَ أ حَ دَ م نِ ج نِ سْ هِ ف يِ ش يَ ءْ م نِ ال فْ ضَ اَئ لِِ
"Hasad tertanam di tabi'at manusia, yaitu namanya manusia benci jika ada seorangpun –yang
sejenis dengannya (sesama manusia)- yang mengunggulinya dalam suatu keutamaan"
(Jaami'ul 'Uluum wa al-Hikam hal 327)
Akan tetapi… lantas apakah kita harus pasrah dan mengikuti penyakit hasad yang merongrong
hati kita???
Model-model Manusia Terhadap Hasad
1 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
"Manusia bermodel-model dalam menghadapi hasad:
(Pertama) : Diantara mereka ada yang berusaha untuk menghilangkan kenikmatan yang ada
pada orang yang dihasadi, dengan berbuat dzolim kepadanya, baik dengan perkataan maupun
dengan perbuatan lalu diantara mereka ada yang berusaha hanya untuk menghilangkan
kenikmatan tersebut dari yang dihasadi tanpa harus berpindah kenikmatan tersebut kepadanya
Dan inilah yang merupakan bentuk hasad yang paling buruk dan paling keji, dan inilah hasad
yang tercela dan terlarang. Ia adalah hasad yang merupakan dosa Iblis, dimana ia telah hasad
kepada Adam 'alaihis salaam tatkala ia melihat Adam telah mengungguli para malaikat, yaitu
Allah telah menciptakan Adam dengan tanganNya, telah memerintahkan para malaikat untuk
sujud kepadanya, Allah telah mengajarkannya nama-nama segala sesuatu, serta Allah
menempatkan Adam di surga di sisiNya. Maka Iblispun terus senantiasa berusaha untuk
mengeluarkan Adam dari surga, hingga akhirnya iapun berhasil mengeluarkan Adam dari
surga…
Hasad ini pulalah yang merasuki orang-orang yahudi sebagaimana telah Allah sebutkan dalam
beberapa ayat dalam Al-Qur'an, diantaranya firman Allah
و دَ ك ثَ يِر م نِ أ هَ لْ ال كْ تِ اَب ل وَ ي رَ دُ وُّن كَ مُ م نِ ب عَ دِْ
إ يِم اَن كِ مُ ك فُ اَّر اً ح سَ دَ اً م نِ ع نِ دْ أ نَ فْ سُ هِ مِ م نِ ب عَ دْ م اَ
ت بَ يَ نَّ ل هَ مُ ال حْ قَُّ
"Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah
nyata bagi mereka kebenaran." (QS Al-Baqoroh : 109)
Juga firman Allah :
أ مَ ي حَ سْ دُ وُن الن اَّس ع لَ ىَ م اَ آت اَه مُ الل هَّ م نِ ف ضَ لْ هِ ف قَ دَْ
آت يَ نْ اَ آل إ بِ رْ اَه يِم ال كْ تِ اَب و اَل حْ كِ مْ ةَ و آَت يَ نْ اَه مُ م لُ كْ اً
( ع ظَ يِم اً ( ٥٤
"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia [Yaitu: kenabian, Al
Quran, dan kemenangan] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah
memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan
kepadanya kerajaan yang besar" (QS An-Nisaa' : 54)" (Dari perkataan Ibnu Rojab dalam
Jaami'ul 'Uluum wal Hikam hal 327)
(Kedua) : Diantara mereka ada yang menghendaki kenikmatan yang ada pada saudaranya
berpindah kepada dirinya. Misalnya saudaranya tersebut memiliki seorang istri yang cantik
lantas ia berangan-angan agar saudaranya menceraikan istrinya tersebut atau agar saudaranya
segera meninggal sehingga iapun bisa menikahi sang wanita.
Atau saudaranya memimpin sebuah markaz lantas ia berangan-angan agar saudaranya segera
hengkang pergi atau segera meninggal agar ialah yang akan menjadi pemimpin markaz
tersebut.
2 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
Atau saudaranya seorang dai yang terkenal dan memiliki banyak pengikut, maka iapun
berangan-angan agar saudaranya melakukan kesalahan sehingga ditinggalkan oleh para
pengikutnya maka para pengikutnya akan berpaling kepadanya.
(Ketiga) : Ia bukan berharap hilangnya kenikmatan yang ada pada saudaranya, akan tetapi ia
berbahagia jika saudaranya tetap dalam kondisinya yang buruk, tetap dalam keadaan miskin,
atau tetap dalam keadaan bodoh, atau tetap dalam keadaan terjerumus dalam kesalahan atau
bid'ah. Karenanya hatinya menjadi teriris-iris jika saudaranya tersebut menjadi kaya, atau
menjadi pintar dan alim, atau yang tadinya terjerumus dalam bid'ah kemudian mengenal
sunnah.
(Keempat) : Ia tidak berharap hilangnya kenikmatan yang ada pada saudaranya, akan tetapi ia
berharap dirinya memperoleh kenikmatan sebagaimana yang dirasakan oleh saudaranya, dan
ia berusaha untuk memperolehnya, sehingga kondisinya bisa setingkat/setara dengan
saudaranya tersebut. Akan tetapi tatkala cita-citanya tersebut tidak tercapai, kenikmatan tidak
bisa ia raih maka iapun terjerumus dalam hasad, iapun ingin kenikmatan pada saudaranya
lenyap, sehingga saudaranya tersebut bisa terjatuh dan setara dengan dirinya. (poin kedua
hingga keempat silahkan lihat kitab Fiqh Al-Hasad karya Musthofa Al-'Adawi hal 9-10)
(Kelima) : Ia hasad kepada saudaranya, akan tetapi ia tidak berusaha untuk menghilangkan
kenikmatan yang ada pada saudaranya, ia tidak menzoliminya baik dengan perbuatan maupun
dengan perkataan. Jika ia berusaha untuk menghilangkan hasad dalam hatinya akan tetapi ia
tidak berhasil, bahkan hasad tetap mendominasinya maka orang seperti ini tidak berdosa
selama ia tidak merealisasikan penyakit hasadnya dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.
Adapun jika ia sengaja membisikkan hatinya untuk hasad dan mengulang-ngulang bisikan
tersebut dalam hatinya, dan ia tenteram dan condong kepada hilangnya kenikmatan dari
saudaranya, meskipun ia tidak merealisasikan hasadnya dalam bentuk perkataan maupun
perbuatan akan tetapi hanya disimpan dihati, maka orang seperti ini ada khilaf diantara para
ulama, apakah ia dihukum atau tidak?, apakah ia berdosa atau tidak?. Masalahnya apa yang ia
lakukan dengan membisikan hasad kepada hatinya mirip dengan 'azam/tekad yang dipasang
untuk melakukan kemaksiatan meskipun belum melakukan kemaksiatan. Dan sebagian ulama
menyatakan bahwa jika niat sudah sampai pada derajat 'azam/tekad maka menimbulkan dosa.
(Lihat Jaami'ul 'Uluum hal 327-328).
Ibnu Taimiyyah berkata, "Barang siapa yang mendapati dalam dirinya rasa hasad kepada orang
lain maka hendaknya ia menggunakan ketakwaannya dan kesabarannya untuk membenci
hasad yang ada dalam dirinya.
Banyak orang yang memiliki agama (yang kuat) mereka tidak berbuat dzolim kepada orang
yang dihasadi, mereka juga tidak menolong orang yang menzolimi orang yang dihasadi. Akan
tetapi mereka juga tidak menunaikan kewajiban hak orang yang dihasadi. Bahkan jika ada
seseorang yang mencela orang dihasadi tersebut maka mereka tidak setuju dengan pencela
tadi namun juga tidak menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dihasadi. Mereka ini
berhutang kepadanya karena telah meninggalkan perkara yang diperintahkan untuk
menunaikan haknya dan kurang dalam menunaikannya, namun mereka tidak berbuat
3 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
pelanggaran terhadap haknya. Maka balasan terhadap mereka adalah hak-hak mereka juga
akan terkurang hak-hak mereka, sehingga mereka juga tidak akan disikapi dengan adil dalam
beberapa kondisi, serta mereka juga tidak akan ditolong melawan orang yang yang menzolimi
mereka sebagaimana mereka tidak menolong orang dihasadi tersebut. Adapun barang siapa
yang melanggar/menzolimi orang yang dihasadi baik dengan perkataan maupun perbuatan
maka ia akan dihukum" (Majmuu' Al-Fataawaa 10/125)
(Keenam) : Yaitu seseorang yang tatkala mendapatkan dalam dirinya rasa hasad maka ia
berusaha menghilangkannya dengan cara berbuat baik kepada saudaranya yang ia hasadi, ia
mendoakannya, ia menyebarkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaannya, hingga
akhirnya ia mengganti hasadnya dengan mencintai saudaranya. Ini termasuk derajat keimanan
yang tertinggi. Pelakunya adalah seorang yang imannya sempurna, yang menghendaki bagi
saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya sendiri. (Lihat Jaami'ul 'Uluum wal Hikam hal 328)
Ibnu Taimiyyah berkata, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dan bersabar (*sehingga
tidak merealisasikan hasadnya), dan tidak termasuk dalam orang-orang yang berbuat dzolim,
maka Allah akan memberi manfaat kepadanya dengan ketakwaannya tersebut. Sebagaimana
yang dialami oleh Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anhaa. Ia adalah istri Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam yang menyaingi Aisyah (di hati Nabi)" (Majmuu' Al-Fataawaa 10/125, yaitu Zainab
selamat tidak ikut-ikutan menuduh Aisyah dalam kasus 'ifk/tuduhan Aisayh berzina. Padahal
saudarinya Hamnah binti Jahsy ikut terprovokasi sehingga ikut-ikutan menuduh Aisyah)
Sebab Timbulnya Hasad
Ibnu Taimiyyah berkata :
"Dan hasad diantara para wanita sering terjadi dan mendominasi, terutama diantara para
istri-istri pada satu suami. Seorang wanita cemburu karena adanya para istri yang lain yang
menyertainya. Demikianlah hasad sering terjadi diantara orang-orang yang berserikat dalam
kepemimpinan atau harta jika salah seorang dari mereka mendapatkan bagian dan yang
lainnya luput dari bagian tersebut. Demikian juga hasad terjadi diantara orang-orang yang
setara karena salah seorang diantara mereka lebih dari pada yang lain. Sebagaimana para
saudara nabi Yusuf, demikian juga hasadnya salah seorang anak Adam kepada yang laiinya. Ia
hasad kepada saudaranya karena Allah menerima korbannya sementara kurbannya tidak
diterima. Ia hasad kepada kelebihan yang Allah berikan berupa keimanan dan ketakwaan
–sebagaimana hasadnya yahudi terhadap kaum muslimin- sehingga iapun membunuh
saudaranya karena hasad tersebut" (Majmuu' Al-Fatawa 10/125-126)
Karenanya seorang penjual minyak wangi memiliki hasad yang sangat besar kepada penjual
minyak wangi yang lain, terlebih lagi jika penjual yang lain tersebut berjualan di areal yang
sama. Padahal meskipun di dekat areal tersebut ada show room mobil yang pemiliknya
memperoleh keuntungan puluhan juta tiap hari, akan tetapi para penjual minyak wangi tidak
hasad kepada sang pemilik show room, karena segmen dan profesi yang berbeda.
4 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
Demikian juga dokter hasad kepada dokter yang lain jika ternyata pasien dokter tersebut lebih
banyak dari pasiennya.
Tukang becak hasad kepada tukang becak lainnya, dan ia tidak hasad kepada para supir taksi
yang mungkin untung mereka berlipat-lipat ganda daripada untuk si tukang becak.
Demikian pula tetangga hasad kepada tetangga yang lain, tatkala melihat isi rumah
tetangganya lebih mewah, demikian juga bangunan rumahnya lebih mewah.
Demikian juga penuntut ilmu hasad kepada penuntut ilmu yang lain, jika ternyata niatnya
menuntut ilmu tidak ikhlas karena Allah.
Keburukan Hasad
Pertama : Hasad bertentangan dengan nilai dan konsekuensi persaudaraan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا ت حَ اَس دَ وُا و لَا ت بَ اَغ ضَ وُ اْ و لَا ت قَ اَط عَ وُا و كَ وُ نْ وُا ع بِ اَد اللهِ
إ خِ وْ اَن اً
"Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling membenci, jangan saling memboikot, dan
jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" (HR Muslim no 2559)
Padahal diantara kaum mukminin harusnya saling mencintai dan menyayangi. Allah berfirman:
م حُ مَ دَّ ر سَ وُل الل هَّ و اَل ذَّ يِن م عَ هَ أ شَ دِ اَّء ع لَ ىَ ال كْ فُ اَّرِ
ر حُ مَ اَء ب يَ نْ هَ مُْ
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (Al-Fath : 29)
Kedua : Hasad merupakan penyakit.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
د بَ إ لِ يَ كْ مُ د اَء الأ مُ مَ ق بَ لْ كَ مُ : ال حْ سَ دَ و اْل بْ غَ ضْ اَء ،ُ
و اَل بْ غَ ضْ اَء ه يِ ال حْ اَل قِ ةَ لا أ قَ وُ لْ ت حَ لْ قِ الش عَّ رْ و لَ كَ نِْ
ت حَ لْ قِ الد يِّ نْ و اَل ذَّ يِ ن فَ سْ يِ ب يِ دَ هِ لا ت دَ خْ لُ وُا ال جْ نَ ةَّ ح تَ ىَّ
5 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
ت ؤُ مْ نِ وُا و لَا ت ؤُ مْ نِ وُا ح تَ ىَّ ت حَ اَب وُّا أ فَ لَا أ نُ بَ ئِّ كُ مُ ب مِ اَ
ي ثُ بْْ تِ ذ لَ كِ ل كَ مُ ؟ أ فَ شْ وُا الس لَّا مَ ب يَ نْ كَ مُْ
"Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, hasad dan permusuhan. Dan
permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi
membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya tidaklah kalian masuk surga
hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku
kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut?, tebarkanlah salam
diantara kalian" (HR At-Thirmidzi 2/83 dan Ahmad 1/165,167, dan dihasankan oleh Al-Albani
dalama Irwaaul Gholil 3/238)
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:
س يَ صُ يِ بْ أ مُ تَّ يِ د اَء الأ مُ مَ ، ف قَ اَل وُا : ي اَ ر سَ وُ لْ الله و مَ اَ د اَءُ
الأ مُ مَ ؟ ق اَل : الأ شَ رْ ،ُ و اَل بْ طَ رْ والت كَّ اَث رُ و اَلت نَّ اَج شُ ف يِ
الد نُّ يْ اَ و اَلت بَّ اَغ ضُ و اَلت حَّ اَس دُ ح تَ ىَّ ي كَ وُ نْ ال بْ غَ يُْ
"Umatku akan ditimpa penyakit umat-umat". Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apakah
itu penyakit umat-umat (terdahulu)?". Rasulullah berkata,
"Kufur Nikmat, bersikap berlebihan terhadap nikmat Allah (terlalu riang gembira/berfoya-foya),
saling berlomba-lomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy, saling memusuhi, dan
saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kedzoliman)"
(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 680)
Ibnu Taimiyyah berkata, "Rasulullah menamakan hasad sebagai penyakit… maka dikatahui
bahwasanya hasad merupakan penyakit. Dalam hadits yang lain (doa Nabi)
أ عَ وُ ذْ ب كِ م نِ م نُ كْ رَ اَت الأ خَ لْا قَ و اَلأ هَ وْ اَء و اَلأ دَ وْ اَءِ
"Aku berlindung kepada Engkau dari akhlak yang munkar, dari hawa nafsu, dan dari
penyakit-penyakit" (Majmuu Al-Fataawaa 10/126)
Ketiga : Hasad lebih buruk dari pelit
Ibnu Taimiyyah berkata :
و اَلش حُّ م رَ ضَ و اَل بْ خُ لْ م رَ ضَ و اَل حْ سَ دَ ش رَ م نِ ال بْ خُ لِْ
"Rasa pelit penyakit, kikir merupakan penyakit, dan hasad lebih buruk daripada rasa pelit"
(Majmuu Al-Fataawa 10/128)
Hal ini dikarenakan orang yang pelit ia hanya mencegah dirinya dari kenikmatan Allah, atau
mencegah orang lain dari kenikmatan yang Allah yang ia miliki. Adapun orang yang hasad ia
membenci kenikmatan Allah pada orang lain.
Terkadang seseorang dermawan dengan memberikan pemberian kepada orang lain yang
6 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
membantunya akan tetapi ia hasad kepada orang-orang lain yang semisalnya. Terkadang
seseorang pelit akan tetapi ia tidak hasad kepada orang lain. (lihat Majmuu' Al-Fataawaa 10/29)
Keempat ; Orang yang hasad pada hekekatnya protes dengan keputusan Allah.
Allah yang telah mentaqdirkan si fulan kaya, si fulan cerdas, sifulan cantik, dll.
Allah berfirman :
أ هَ مُ ي قَ سْ مِ وُن ر حَ مْ ةَ ر بَ كِّ ن حَ نْ ق سَ مَ نْ اَ ب يَ نْ هَ مُ م عَ يِش تَ هَ مُْ
ف يِ ال حْ يَ اَة الد نُّ يْ اَ و رَ فَ عَ نْ اَ ب عَ ضْ هَ مُ ف وَ قْ ب عَ ضْ د رَ جَ اَتٍ
ل يِ تَ خَّ ذِ ب عَ ضْ هُ مُ ب عَ ضْ اً س خُ رْ يِ اًّ و رَ حَ مْ ةَ ر بَ كِّ خ يَ رْ م مِ اَّ
( ي جَ مْ عَ وُن ( ٣٢
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka
atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"
(Az-Zukhruf : 32)
و كَ ذَ لَ كِ ف تَ نَ اَّ ب عَ ضْ هَ مُ ب بِ عَ ضْ ل يِ قَ وُل وُا أ هَ ؤَ لُاء م نَ الل هَُّ
( ع لَ يَ هْ مِ م نِ ب يَ نْ نِ اَ أ لَ يَ سْ الل هَّ ب أِ عَ لْ مَ ب اِلش اَّك رِ يِن ( ٥٣
"Dan Demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian
mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang Kaya itu) berkata: "Orang-orang
semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman):
"Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?" (QS
Al-An'aam : 53)
Lantas orang yang hasad ini protes dari sisi :
- Tidak setuju dengan pembagian Allah tersebut
- Tidak setuju kalau si fulan mendapatkan kenikmatan, dan merasa bahwa dialah yang
lebih pantas meraih kenikmatan tersebut
Kelima : Orang yang hasad pada hekekatnya telah berbuat baik kepada orang yang ia hasadi.
Karena jika ia telah hasad ia biasanya menzolimi orang yang ia hasadi dengan perbuatan
maupun dengan perkataan. Baik merendahkan atau menggibahinya. Dengan demikian maka ia
telah mentransfer kebaikan-kebaikannya kepada orang yang ia hasadi tersebut pada hari
kiamat kelak, pada hari dimana sangat dibutuhkan kebaikan-kebaikan untuk ditimbang oleh
Allah
Keenam : Orang yang hasad telah bertasyabbuh dengan iblis dan kaum yahudi. Karena hasad
adalah akhlak iblis dan orang-orang yahudi.
7 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
Ketujuh : Orang yang hasad pada hakikatnya meminta agar Allah memberinya cobaan yang
belum tentu bisa ia pikul. Seseorang miskin yang hasad kepada orang yang kaya hendaknya ia
berhusnudzon kepada Allah tatkala ia belum diizinkan Allah untuk menjadi kaya, karena bisa
jadi jika ia diberi kekayaan oleh Allah maka ia akan semakin jauh dari Allah dan terjerumus
dalam berbagai kemaksiatan, sebagaimana yang banyak dialami oleh orang-orang yang kaya
raya. Dan bukankah jika ia kaya, maka akan banyak orang yang hasad kepadanya?, sehingga
ia tidak akan aman dari gangguan mereka yang hasad kepadanya??!.
Seorang yang hasad kepada orang yang memiliki ilmu lebih dan dakwahnya lebih diterima,
hendaknya ia husnudzon kepada Allah, karena bisa jadi jika Allah memindahkan ilmu orang
tersebut kepadanya maka ia tidak mampu memikulnya, bisa jadi iapun menjadi orang yang riya
dan angkuh sehingga menjerumuskan ia ke dalam api neraka.
Kedelapan : Hasad adalah penyebab dosa pertama kali di langit dan dibumi. Iblis kafir kepada
Allah karena hasad kepada Adam, dan Qobil membunuh Habil pun karena hasad.
Tidak Hasad Sebab Masuk Surga
Membersihkan hati dari segala model hasad merupakan perkara yang sangat berat dan butuh
perjuangan yang berkesinambungan.
Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata:
ك نُ اَّ ج لُ وُس اً م عَ ر سَ وُل الله ص لَ ىَّ الله ع لَ يَ هْ و سَ لَ مَّ ف قَ اَل :َ "
ي طَ لْ عُ ع لَ يَ كْ مُ ال آْن ر جَ لُ م نِ أ هَ لْ ال جْ نَ ةَّ " ف طَ لَ عَ ر جَ لُ م نَِ
ال أْ نَ صْ اَر ،ِ ت نَ طْ فِ ل حِ يْ تَ هُ م نِ و ضُ وُئ هِ ،ِ ق دَ ت عَ لَ قَّ ن عَ لْ يَ هْ ف يِ
ي دَ هِ الش مِّ اَل ،ِ ف لَ مَ اَّ ك اَن ال غْ دَ ،ُ ق اَل الن بَّ يِ ص لَ ىَّ اللهُ
ع لَ يَ هْ و سَ لَ مَّ ،َ م ثِ لْ ذ لَ كِ ،َ ف طَ لَ عَ ذ لَ كِ الر جَّ لُ م ثِ لْ ال مْ رَ ةَِّ
ال أْ وُل ىَ . ف لَ مَ اَّ ك اَن ال يْ وَ مْ الث اَّل ثِ ،ُ ق اَل الن بَّ يِ ص لَ ىَّ اللهُ
ع لَ يَ هْ و سَ لَ مَّ ،َ م ثِ لْ م قَ اَل تَ هِ أ يَ ضْ اً، ف طَ لَ عَ ذ لَ كِ الر جَّ لُ ع لَ ىَ
م ثِ لْ ح اَل هِ ال أْ وُل ىَ، ف لَ مَ اَّ ق اَم الن بَّ يِ ص لَ ىَّ الله ع لَ يَ هِْ
و سَ لَ مَّ ت بَ عِ هَ ع بَ دْ الله ب نْ ع مَ رْ وِ ب نْ ال عْ اَص ف قَ اَل :َ إ نِ يِّ
ل اَح يَ تْ أ بَ يِ ف أَ قَ سْ مَ تْ أ نَ ل اَ أ دَ خْ لُ ع لَ يَ هْ ث لَ اَث اً، ف إَ نِْ
ر أَ يَ تْ أ نَ ت ؤُ وْ يِ نَ يِ إ لِ يَ كْ ح تَ ىَّ ت مَ ضْ يِ ف عَ لَ تْ ؟ ق اَل :َ ن عَ مَْ
"Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata
: "Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga". Maka munculah seseorang
dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua
sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama
seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan
kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin 'Amr bin Al-'Aash
mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : "Aku bermasalah dengan ayahku dan aku
8 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh
menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, "Silahkan".
Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :
و كَ اَن ع بَ دْ الله ي حُ دَ ثِّ أ نَ هَّ ب اَت م عَ هَ ت لِ كْ الل يَّ اَل يِ
الث لَّ اَث ،َ ف لَ مَ ي رَ هَ ي قَ وُم م نِ الل يَّ لْ ش يَ ئْ اً، غ يَ رْ أ نَ هَّ إ ذِ اَ
ت عَ اَر و تَ قَ لَ بَّ ع لَ ىَ ف رِ اَش هِ ذ كَ رَ الله ع زَ و جَ لَ و كَ بَ رَّ ،َ
ح تَ ىَّ ي قَ وُم ل صِ لَ اَة ال فْ جَ رْ . ق اَل ع بَ دْ الله :ِ غ يَ رْ أ نَ يِّ ل مَْ
أ سَ مْ عَ هْ ي قَ وُل إ لِ اَّ خ يَ رْ اً، ف لَ مَ اَّ م ضَ تَ الث لَّ اَث ل يَ اَل و كَ دِ تُْ
أ نَ أ حَ قْ رِ ع مَ لَ هَ ،ُ ق لُ تْ :ُ ي اَ ع بَ دْ الله إ نِ يِّ ل مَ ي كَ نُ ب يَ نْ يِ
و بَ يَ نْ أ بَ يِ غ ضَ بَ و لَ اَ ه جَ رْ ث مَ ،َّ و لَ كَ نِ س مَ عِ تْ ر سَ وُل الله ص لَ ىَّ
الله ع لَ يَ هْ و سَ لَ مَّ ي قَ وُل ل كَ ث لَ اَث م رِ اَر :ٍ " ي طَ لْ عُ ع لَ يَ كْ مُُ
ال آْن ر جَ لُ م نِ أ هَ لْ ال جْ نَ ةَّ " ف طَ لَ عَ تْ أ نَ تْ الث لَّ اَث م رِ اَر ،ٍ
ف أَ رَ دَ تْ أ نَ آو يِ إ لِ يَ كْ ل أِ نَ ظْ رُ م اَ ع مَ لَ كُ ،َ ف أَ قَ تْ دَ يِ ب هِ ،ِ
ف لَ مَ أ رَ كَ ت عَ مْ لَ ك ثَ يِر ع مَ لَ ،ٍ ف مَ اَ ال ذَّ يِ ب لَ غَ ب كِ م اَ ق اَلَ
ر سَ وُل الله ص لَ ىَّ الله ع لَ يَ هْ و سَ لَ مَّ ،َ ف قَ اَل :َ م اَ ه وُ إ لِ اَّ م اَ
ر أَ يَ تْ . ق اَل :َ ف لَ مَ اَّ و لَ يَّ تْ د عَ اَن يِ، ف قَ اَل :َ م اَ ه وُ إ لِ اَّ م اَ
ر أَ يَ تْ ،َ غ يَ رْ أ نَ يِّ ل اَ أ جَ دِ ف يِ ن فَ سْ يِ ل أِ حَ دَ م نِ ال مْ سُ لْ مِ يِنَ
غ شِ اًّ، و لَ اَ أ حَ سْ دُ أ حَ دَ اً ع لَ ىَ خ يَ رْ أ عَ طْ اَه الله إ يِ اَّه . ف قَ اَلَ
ع بَ دْ الله ه ذَ هِ ال تَّ يِ ب لَ غَ تَ ب كِ ،َ و هَ يِ ال تَّ يِ ل اَ ن طُ يِقُ
"Abdullah bin 'Amr bin al-'Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang
tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan
sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka
iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh.
Abdullah bertutur : "Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan
tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata
kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan
ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga",
lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih
amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang
telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?". Orang itu
berkata : "Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat". Abdullah bertutur : "Tatkala aku
berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat,
hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang
muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan
kepadanya". Abdullah berkata, "Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk
surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui" (HR Ahmad 20/124 no 12697, dengan sanad
yang shahih)
Perhatikanlah hadits yang sangat agung ini, betapa tinggi nilai amalan hati di sisi Allah. Sahabat
tersebut sampai dinyatakan sebagai penduduk surga oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut, sebabnya… karena ia tidak telah
membersihkan hatinya dari segala noda hasad !!!. Padahal amalan dzohirnya sedikit, sahabat
9 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
ini tidak rajin berpuasa sunnah dan tidak rajin sholat malam, akan tetapi yang menjadikannya
mulia… adalah amalan hatinya. (silahkan baca kembali http://www.firanda.com/index.php/artik
el/aqidah/106-pentingnya-amalan-hati )
Ibnu Taimiyyah berkata, "Perkataan Abdullah bin 'Amr kepadanya, "Inilah yang telah engkau
capai yang kami tidak mampui" memberi isyarat akan bersih dan selamat hatinya dari segala
bentuk dan model hasad" (Majmuu' Al-Fataawaa 10/119)
Para sahabat kaum Anshoor telah membersihkan hati mereka dari rasa hasad terhadap
saudara-saudara mereka kaum muhajirin. Allah berfirman
و اَل ذَّ يِن ت بَ وَ ءَّ وُا الد اَّر و اَلإيم اَن م نِ ق بَ لْ هِ مِ ي حُ بِ وُّن م نَْ
ه اَج رَ إ لِ يَ هْ مِ و لَا ي جَ دِ وُن ف يِ ص دُ وُر هِ مِ ح اَج ةَ م مِ اَّ أ وُت وُا
و يَ ؤُ ثْ رِ وُن ع لَ ىَ أ نَ فْ سُ هِ مِ و لَ وَ ك اَن ب هِ مِ خ صَ اَص ةَ و مَ نَ ي وُقَ
( ش حُ ن فَ سْ هِ ف أَ وُل ئَ كِ ه مُ ال مْ فُ لْ حِ وُن ( ٩
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada
mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung" (Al-Hasyr : 9)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Firman Allah "Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan
dalam hati mereka (hasad) terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin)" yaitu:
و لَا ي جَ دِ وُ نْ ف يِ أ نَ فْ سُ هِ مِ ح سَ دَ اً ل لِ مْ هُ اَج رِ يِ نْ ف يِ مْ اَ ف ضَ لَّ هَ مُُ
الله ب هِ م نِ ال مْ نَ زْ لِ ةَ و اَلش رَّ فَ ،ِ و اَلت قَّ دْ يِ مْ ف يِ الذ كِّ رِْ
و اَلر تُّ بْ ةَِ
"Mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka rasa hasad kepada kaum muhajirin atas
keutamaan yang Allah berikan kepada mereka, berupa kedudukan dan kemuliaan, serta
penyebutan dan kedudukan"
Ibnu Taimiyyah berkata, "Antara kaum Al-Aus dan Al-Khozroj terjadi persaingan dalam agama.
Maka jika sebagian mereka melakukan apa yang menjadikan mereka mulia di sisi Allah dan
RasulNya maka yang lainnya juga senang untuk melakukan yang semisalnya, dan ini
merupakan persaingan yang mendekatkan mereka kepada Allah sebagaimana firman Allah
( و فَ يِ ذ لَ كِ ف لَ يْ تَ نَ اَف سَ ال مْ تُ نَ اَف سِ وُن ( ٢٦
"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba" (Al-Muthoffiifin : 26)
(Majumuu' Al-Fataawaa 10/20)
10 / 11
Bersihkan Hati Anda Dari Noda Hasad
Written by Administrator
Sunday, 22 April 2012 11:04
Yang Bukan Termasuk Hasad
Pertama : Al-Ghibtoh
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا ح سَ دَ إ لِا ف يِ اث نْ تَ يَ نْ ر جَ لُ آت اَه الله م اَلا ف سَ لَ طَّ ع لَ ىَ
ه لَ كَ تَ هِ ف يِ ال حْ قَ و رَ جَ لُ آت اَه الله ال حْ كِ مْ ةَ ف هَ وُ ي قَ ضْ يِ ب هِ اَ
و يَ عُ لَ مِّ هُ اَ
"Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seseorang yang Allah anugrahkan harta lantas ia
menghabiskan hartanya untuk kebenaran, dan seseorang yang dianugerahkan Allah al-hikmah
maka ia pun memutuskan perkara dengan hikmah tersebut dan mengajarkannya" (HR
Al-Bukhari no 73 dan Muslim no 816)
Kedua : Ar-Roozi berkata, "Seluruh bentuk hasad haram hukumnya, kecuali hasad kepada
kenikmatan yang ada pada seorang kafir atau seorang fajir yang menggunakan kenikmatan
tersebut untuk keburukan dan kerusakan. Maka tidak memberikan mudhorot bagimu (tidak
mengapa) jika engkau menyukai hilangnya kenikmatan tersebut. Karena tidaklah engkau
menghendaki hilangnya kenikmatan karena dzat kenikmatan tersebut, akan tetapi karena
digunakannya kenikmatan tersebut untuk kerusakan, keburukan, dan mengganggu orang lain"
(At-Tafsiir Al-Kabiir 3/238)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 29-05-1433 H / 21 April 2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com
11 / 11